Background Image

Malang Kota Seribu Kenangan part 2

Home  /  Uncategorized  /  Malang Kota Seribu Kenangan part 2

Malang Kota Seribu Kenangan part 2

August 9, 2018      In Uncategorized No Comments

 

RAFTING PUJON MALANG – Artikel sebelumnya telah menggambarkan sejarah asal mula nama kota Malang. Kali ini,masih dengan nada yang sama yaitu sejarah awal kota malang, kita akan mengulik salah satu spot terkenal di kota malang. Kali ini kita akan membahas perihal sejarah Pasar Besar Malang. Kemungkinan di artikel setelahnya kita akan membahas tentang sejarah alun kota malang, sejarah awal kota malang, sejarah asal mula kota malang, sejarah stasiun kota baru malang, sejarah balai kota malang, dan sejarah gereja Ijen kota malang. Namun terlebih dahulu kita kupas tentang pasar besar Malang.

Pasar Besar Malang merupakan pasar tradisional terbesar di kota Malang. Terletak di jalan Pasar Besar, kota Malang. Bangunan 4 lantai ini dijadikan sebagai pusat grosir kebutuhan primer di kota Malang sejak zaman Belanda.Didalam tipologi penataan kota kolonial sebelum tahun 1900, daerah pasar dan toko kecil terletak tidak jauh dari alun-alun di daerah Chineeschestraat. Oleh sebab itu pasar didaerah tersebut dikenal dengan sebutan Pasar Pecinan. Pada tahun 1914 pasar tersebut diambil alih oleh pemerintah kota.

Pada saat kota Malang berdiri pada tahun 1914, Dewan wilayah memikirkan untuk membangun pasar baru milik pemerintah didekat jalan Kayutangan (Basuki Rahmad), disebelah kiri sungai Brantas. Dari pusat Kota, daerah tersebut pada waktu itu hanya bisa dicapai lewat jembatan kecil yang sulit, sehingga rencana tersebut akhirnya batal. Dengan beberapa pertimbangan dan juga dukungan dari pihak golongan cina dan arab. Akhirnya pasar pecinan tersebut diserahkan ke Gementee.

Pasar besar pernah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan pertama yang berarti dilakukan tahun 1919. Kemudian dari tahun 1920-1924 pemerintah saat itu berhasil membangun 20 los yang terbuat dari beton. untuk mencegah kebakaran, selain los dari beton juga dibuat jarak antara satu los dengan los lain sejauh 2 meter. Namun, sepanjang perkembangan dari pasar tersebut ternyata jauh lebih cepat dari pembangunannya. Sehingga jarak tersebut ditutup dengan seng untuk menambah ruang usaha. Setelah itu kesan yang ditimbulkan oleh pasar sangat kacau, selain gelap, sirkulasi udara juga tidak lancar.

Pada tahun 1930 keadaan pasar kian mengkhawatirkan, selain karena itu tadi, pasar juga semakin berkembang sementara area pasar tidak bertambah luas. Kemudian pemerintah kota mengusulkan untuk mendaya gunakan pasar0pasar kampung sebagai jalan keluarnya. Pada tahun 1932 dan 1934 telah dibangun pasar kampung di Bunulrejo, Kebalen, Oro-Oro Dowo,Embong Brantas dan Lowokwaru.

Kemudian pada tahun 1935 pasar pecinan diperbaiki lagi. Perbaikan paling utama terletak di los ikan dan daging. Interiornya terdiri dari meja dan tempat duduk kayu, ada sanitasi air, diberi pintu masuk dan loket. Sedangkan los lama diubah menjadi restoran. Selain itu los buah dan sayuran juga diperbaiki. Untuk masalah penjaja makanan yang biasanya keliling, disediakanpusat warung. Pada tahun 1940, dibangun pula tempat penjualan bumbu masak dan keperluan dapur. Juga dibuat konstruksi khusus untuk kandang ayam dan sangkar burung. Setahun kemudian dilakukan perbaikan los-los. Terakhir dalah untuk urusan kantor, mandi, cuci, dan kakus. Dibuat juga los-los untuk barang kelontong, kue, tukang emas, pakaian, barang bekas, da sebagainya. Tempat penitipan sepeda juga diperispkan. Selain itu bagian gerbang pintu masuk juga diperbaiki. Dibangun juga sebuah stasiun bus dan oplet dibelakang pasar namun sekrang sudah tidak ada lagi.

Sayang sekali pasar pecinan yang penuh kisah perancangan tersebut sudah dibongkar. saat ini telah diganti dengan bangunan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *